Sabtu, 21 April 2012

Antara Bahasa Jawa Baku dan Dialek Tegal


Dari Tegal datang merantau ke Jogja merupakan sebuah pekerjaan yang sangat berat. Khususnya dalam hal budaya. Kita semua tahu Jogja dengan segala budaya Jawa yang adiluhung yang masih sangat terjaga, sedangkan Tegal merupakan daerah Jawa yang rasanya sudah mulai luntur ke-Jawaannya.
Budaya yang paling terlihat disini salah satunya adalah budaya berbahasa. Sama-sama suku Jawa tapi punya bahasa yang relatif berbeda, meskipun ada beberapa yang sama. Jogja dengan bahasa Jawa bakunya tentu semua orang sudah tahu, bahwa bahasa Jawa mempunyai undha-usuk bahasa atau yang bisa diartikan sebagai kesopanan dalam berbahasa. Dalam bahasa Jawa jogja, tuturan antar teman yang semuran berbeda dengan tuturan antara seseorang kepada orang tua, meskipun mungkin arti atau maksud dari tuturan tersebut sama. Bisa dilihat dari contoh berikut, “wis mangan?” merupakan tuturan kepada teman sebaya. Tuturan tersebut salah jika dituturkan kepada orang yang lebih tua atau yang punya jabatan sosial yang lebih tinggi, tuturan yang benar adalah “sampun dhahar?”

Contoh tuturan tersebut di atas jika dirasakan secara mendalam memang sangatlah pantas, betapa kita harus menghormati lawan bicara kita khususnya lawan bicara yang usianya sudah lebih tua atau kelas sosialnya lebih tinggi. Namun dilain sisi sebagai orang yang asli dilahirkan dari lingkungan Tegal, serasa ada yang janggal dari tuturan tersebut. Tindakan meninggikan lawan bicara tersebut serasa membuat adanya jarak pemisah antara penutur dan lawan tutur. Berbeda dengan tuturan bahasa Tegal yang tidak mempunyai tingkat tutur atau undha-usuk. Semua bahasa ujar baik dituturkan kepada orang seumuran atau ke orang yang lebih tua dituturkan dengan bahasa yang sama. Tidak ada pembeda. Hal ini membuat pemakaian bahasa Tegal atau bahasa dialek seperti Banyumasan yang juga tidak punya tingkat tutur serasa lebih demokratis tanpa membeda-bedakan umur ataupun kasta dan kelas sosial. Komunikasi dengan menggunakan bahasa Tegal ataupun Banyumasan lebih menumbuhkan nuansa kekeluargaan, keakraban, dan kelugasan yeng lebih kental, daripada menggunakan bahasa Jawa Jogja yang dianggap sebagai bahasa Jawa baku.
Tidak ada pretensi bahwa bahasa ini lebih baik dari bahasa yang lain, ataupun sebaliknya, karena sejatinya semua bahasa lahir dari masyarakat. Jadi asalkan masyarakat menganggap suatu bahasa itu wajar, maka gunakanlah, sebaliknya jika masyarakat tidak merasa cocok akan bahasa tersebut maka jangan gunakanlah.  Dengan dasar paradigma dan konsep pluralisme, semua bahasa punya derajat yang sama, hanya peran dan fungsi yang berbeda serta intensitas dan efektivitas komunikasi pemakaiannya yang tidak sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar