Selasa, 01 Mei 2012

REPRESENTASI WANITA JAWA DI PERANTAUAN


Representasi biasanya dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat. Representasi wanita jawa di perantauan yang akan dikaji dalam novel Nona Sekrataris ini yang merupakan bentuk kajian sosiologi sastra yang dipilih. Hasil analisis akan dikaji kembali mencakup konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin masyarakat, dan fungsi sosial sastra.
Novel “Nona Sekretaris” ditulis oleh Suparto Brata. Beliau pernah hidup berpindah-pindah dengan salah satunya pernah hidup di Sragen Jawa Tengah. Pada saat menetap di Sragen inilah mungkin Suparto menemukan ide atau terilhami menulis cerita Sirtu ini, karena di daerah Sragen dan Jawa Tengah umumnya memang seseorang merantau ke ibukota merupakan hal biasa, bahkan seakan menjadi budaya. Nama Suparto Brata sudah jadi trademark atau jaminan mutu. Artinya meskipun ini hanya cerita rekaan atau crita fiksi tidak digarap serampangan. Misalnya akan menceritakan tentang bepergian pada suatu tempat, bagaimana caranya pada waktu itu, harus lewat mana, naik kendaraan apa, semua diceritakan secara komplit. Begitu pula mengenai suatu profesi, apa itu sekretaris, direktur, penari, koreografer atau bisa juga bagian pemasaran atau mengiklankannya, semua diceritakan dengan profesional, sehingga profesi-profesi yang dilakukan para peraganya tidak hanya terkesan seperti “tempelan” atau figuran.
Dalam novel Nona Sekretaris yang menjadi konteks sosial adalah wanita Jawa di perantauan. Dalam teks diceritakan bagaimana konflik tokoh Sirtu yang asli wanita Jawa dalam mengarungi hidup di tengah masyarakat metropolitan ibukota yang sangat beragam latar belakangnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar