Rabu, 25 April 2012

DIGLOSIA


  A.      PENGERTIAN
Diglosia adalah sebuah istilah yang kali pertama dimunculkan Ferguson (1959), yang menunjuk pada ragam bahasa yang masing-masing mempunyai peran dan fungsi yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat tutur (Chaer, 2004:92).
Dari pendapat diatas mengenai diglosia, dapat diambil kesimpulan bahwa diglosia adalah suatu keadaan dimana terjadi penggunaan lebih dari satu bahasa yang dipergunakan dalam satu masyarakat tutur yang sama. Dalam percampuran tersebut, salah satu ragam bahasa dianggap memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan bahasa yang lainnya. Diglosia ini terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat dua bahasa (variasi) atau lebih yang saling berdampingan satu sama lain dalam pemakaiannya dan mempunyai fungsi sosial tertentu yang disadari pemakaiannya.

B.       CIRI-CIRI DIGLOSIA
Ciri-ciri situasi diglosia yang paling penting adalah pengkhususan fungsi masing-masing ragam bahasa. Ragam bahasa tinggi khusus digunakan dalam situasi-situasi formal seperti kegiatan keagamaan, pidato-pidato, kuliah, siaran berita, atau pada tajuk rencana dalam surat kabar. Sebaliknya, ragam bahasa rendah biasa digunakan dalam situasi-situasi santai seperti percakapan sehari-hari dalam keluarga, antara teman, cerita bersambung dalam radio, atau dalam sastra rakyat.


C.      SEMBILAN SEGI DIGLOSIA
Menurut Ferguson, diglosia terdiri dari sembilan segi, yaitu:
1.      Fungsi  diglosia
Bahasa mempunyai dua ragam yang berbeda, yaitu ragam tinggi dan ragam rendah. Ragam tinggi fungsinya untuk keadaan formal, sedangkan ragam rendah fungsinya untuk keadaan santai atau non formal. Dalam bahasa Jawa, ragam tinggi adalah bahasa krama, sedangkan ragam rendahnya adalah bahasa ngoko.
2.      Prestise
Prestise bahasa adalah suatu tingkat rasa bangga yang timbul dari suatu bahasa pada diri seorang penutur. Ragam tinggi memiliki Prestise yang lebih tinggi sehingga dianggap lebih sopan dan lebih dihormati atau disegani oleh lawan tutur, sedangkan ragam rendah memiliki Prestise yang lebih rendah sehingga lebih disepelekan dan tidak begitu dihormati.
3.      Warisan tradisi tulis menulis
Warisan tradisi tulis menulis dapat dilihat dari banyaknya kepustakaan yang ditulis dengan ragam tinggi, hal ini merupakan kelanjutan besar dari tradisi masa lalu.
4.      Pemerolehan bahasa
Pemerolehan bahasa ragam rendah diperoleh dari lingkungn kehidupan sehari-hari. Umumnya ragam bahasa ini diperoleh ketika berkomunikasi dengan lawan tutur yang sebaya atau setara dalam tataran sosial. Hal ini sangat berbeda dengan ragam bahasa tinggi, ragam bahasa tinggi  biasanya diperoleh ketika proses belajar mengajar di sekolah.
5.      Pembakuan diglosia
Ragam bahasa tinggi lebih diutamakan dalam hal pembakuan bahasa. Ragam bahasa rendah umumnya bersifat lokal kedaerahan kebaisaan sehari-hari dan tidak ada pembakuan seperti pada ragam bahasa tinggi. Pembakuan bahasa tinggi ini terbukti dari adanya kamus, tata bahasa, buku petunjuk lafal, dan buku-buku mengenai pemakaian bahasa yang benar ditulis dalam ragam bahasa tinggi.
6.      Stabilitas
Setiap dilglosia harus ada dua ragam bahasa yang dipertahankan keberadaannya. Dua ragam bahasa itu adalah ragam bahasa tinggi dan ragam bahasa rendah.
7.      Tata bahasa
Banyak perbedaan kaidah tata bahasa antara ragam tinggi dan ragam rendah meskipun keduanya merupakan suatu bahasa yang sama, misalkan antara bahasa jawa krama dan ngoko.
8.      Kosakata
Kosakata-kosakata yang terdapat dalam ragam tinggi dan rendah sebagian sama, akan tetapi bisa saja terdapat kosa kata yang ada dalam ragam tinggi tetapi tidak ada dalam ragam rendah, atau sebaliknya.
9.      Fonologi
Sistem fonologi ragam tinggi dan ragam rendah sebenarnya adalah suatu sistem fonologi tunggal. Maksud dari pernyataan tersebut adalah sistem fonologi ragam rendah merupakan sistem fonologi dasar sedangkan unsur-unsur fonologi ragam tnggi merupakan sistem bawahan dan sistem atasan, tetapi strukturnya sama.

D.      KAITAN BILINGUALISME DAN DIGLOSIA
Sementara dalam kacamata Fishman dalam Abdul Chaer dan Leonie (2004:102), diglosia tidak hanya semata-mata merupakan gejala yang terdapat dalam masyarakat monolingual melainkan lebih dari itu diglosia juga mengacu kepada pemakaian dua bahasa yang berbeda dengan fungsi dan peran yang tidak sama pula. Lebih lanjut, Fishman menunjukkan kemungkinan hubungan interaksi antara bilingualisme dan diglosia kedalam empat tipe masyarakat yaitu: (1) masyarakat dalam bilingualisme dan diglosia (2) masyarakat dengan bilingualisme tanpa diglosia (3) masyarakat dengan diglosia tetapi tanpa bilingualisme (4) masyarakat tanpa diglosia dan tanpa bilingualisme.

E.       DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : Rineka Cipta
Ibrahim, Abdul Syukur. 1993. Kapita Selekta Sosiolinguistik. Surabaya : Usaha Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar