Rabu, 02 November 2011

Para Perantau Jawa di Bali


 Orang Jawa memang terkenal suka merantau. Banyak hal yang melatarbelakangi mengapa orang hidup merantau, tapi secara umum disebabkan karena alasan-alasan sosial dan ekonomi. Ada yang merantau demi pendidikan yang lebih baik karena tidak ada sekolah/universitas yang representatif di daerah asal, ada yang merantau karena suatu pekerjaan yang lebih baik, yang pada umumnya tersedia di kota-kota besar. Ada juga yang merantau karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan nya. Misalnya pegawai negeri atau tugas negara, ada juga yang merantau karena semata-mata ingin mencari pengalaman. Contohnya, saya mempunyai teman yang bisa dibilang secara ekonomi dan tingkatan pendidikan yang bagus tapi memilih hidup merantau karena ingin menumbuhkan sifat kemandirian dan rasa tanggungjawab.
Banyak faktor yang menyebabkan itu, seperti sempitnya lapangan pekerjaan di Jawa yang disertai dengan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, ada juga faktor kebosanan pada pekerjaan di desa tidak ada variasinya selain berkebun atau bertani. Selain faktor tersebut di atas, ada pula faktor pandangan hidup bahwa kalau mau sukses itu kerja di kota.
Faktor yang terakhir tadi merupakan faktor yang membuat semakin padatnya kota-kota besar khususnya di Jawa, contohnya Jakarta, pandangan hidup bahwa sukses itu kerja di kota telah membuat Jakarta menjadi kota yang sangat padat. Setiap tahunnya warga dari pedesaan di Jawa datang berjubel-jubel menuju Jakarta untuk mencari kesuksesan.
Jenuh dengan situasi Jakarta yang semakin padat, beberapa masyarakat Jawa mengalihkan tujuan perantauan mereka ke Bali. Bali merupakan sebuah daerah wisata terkenal di dunia. Setiap tahunnya bali didatangi ribuan pelancong baik dari dalam maupun luar negeri. Hal itulah yang dimanfaatkan masyarakat suku Jawa untuk merantau ke Bali. Masayarakat Jawa di Bali menggantungkan pendapatannya melalui pariwisata tersebut, seperti menjadi pedagang di tempat-tempat wisata, catering dan juga pegawai dalam perhotelan.
Masyarakat Bali merupakan masyarakat yang ramah bagi para perantau dari Jawa. Hal itu terjadi karena masyarakat Bali menganggap bahwa orang-orang Jawa merupakan leluhur mereka. Seperti yang dituturkan oleh Yusuf seorang mahasiswa perhotelan di salah satu universitas swasta di Bandung yang sedang menjalani PKL di Bali. Yusuf yang merupakan seorang Jawa yang sedang merantau di Bali ini mengatakan bahwa orang Bali menghormati orang Jawa karena sejarahnya, “Sebelum datang kesini, saya sering mendengar kalau orang Bali sangat menghormati orang Jawa, ternyata itu benar,” ujar Yusuf. Yusuf yang asli Tegal Jawa Tengah ini lalu menceritakan kenapa hal itu bisa terjadi, “Itu karena Jawa mempunyai kerajaan Majapahit yang dahulu telah menyebarkan agama Hindhu di Bali,” tambah Yusuf. Agama Hindhu memang merupakan agama yang dianut mayoritas warga Bali.
Yusuf yang saat ditemui sedang berlibur di pantai Kuta dalam sela-sela PKL nya lalu menceritakan kembali bahwa meskipun kerajaan Majapahit sekarang sudah tidak ada, beberapa masyarakat Bali bahkan ada yang menganggap masyarakat Bali perlu berziarah ke pulau Jawa khususnya daerah Blitar, Prambanan, dll. Jika dilihat dari sisi seni ataupun aksaranya, anggapan bahwa orang Jawa merupakan leluhur masyarakat Bali memang ada kemiripannya,seperti contoh kemiripan antara tari Barong dari Bali dengan cerita Ramayana dari Jawa ataupun dari segi aksara, yaitu aksara Bali sangat mirip dengan aksara Jawa hanya beda jumlahnya, aksara jawa punya 20 aksara sementara aksara Bali minus 2 yaitu dha  dan tha sehingga jumlahnya hanya 18 aksara.
Rasa kekerabatan itu telah membuat para perantau asal Jawa di Bali hidup nyaman membaur dengan masyarakat asli Bali. Hal seperti ini dialami oleh Pak Agus yang berasal dari Jawa Timur, “Saya sudah jual bakso di Bali ini kurang lebih 3 tahunan,” tutur Pak Agus dengan aksen medhok khas Jawa Timurannya. Pak Agus terpaksa merantau ke Bali karena lapangan pekerjaan di Jawa sudah terlalu penuh. Beliau menambahkan bahwa awalnya jualan bakso di Bali agak sepi, namun dengan semangat pantang menyerah peenjualan baksonya semakin hari semakin lumayan, “Awalnya jualan bakso di sini sepi, setelah berkeliling dari jalan satu ke jalan yang lain, Alhamdulillah hasilnya lumayan,” tuturnya.
Yang menjadi andalan bakso Pak Agus adalah ke halalannya, “ Ya, yang saya jual bakso halal, alhumdulillah jadi saya kelilingnya di daerah perkampungan muslim kaya disini ini jadi lumayan laris,” tambah Pak Agus yang saat itu sedang berjualan di dekat Masjid di sekitar Universitas Udayana Fakultas Sastra yang kebetulan lingkungannya adalah lingkungan muslim.
Strategi Pak Agus dengan berjualan makanan halal juga dilakukan oleh Pasangan suami istri Widodo-Sukini. Mereka merupakan warga perantau dari Jawa asli dari Wonogiri, Jawa Tengah. Bahkan  mereka merantau sudah sejak tahun 1975.  Sama halnya Pak Agus,  pasutri ini juga menjadi wiraswasta dan membuka usaha menjadi pedagang bakso, warung bakso mereka diberi nama sesuai nama sang suami yaitu “Bakso Widodo”.
Saat ditanya mengenai kenapa pilihannya merantau di Bali, pak Widodo menjawab karena dahulu saat pertama kali beliau akan merantau, daerah Bali belumlah ramai penjual makanan seperti sekarang, seiring berjalannya waktu, Bali menjadi tempat yang sangat terkenal dan ramai, omset penjualan bakso pak Widodo pun ikut meningkat.
Perantau Jawa di Bali tidak hanya berjualan makanan, contohnya adalah Pak Akhmad. Pak Akhmad merupakan PNS di sebuah sekolah negeri di Bali. Lelaki yang menemukan jodohnya di perantauan ini menceritakan bahwa perantau asal Jawa di Bali kebanyakan merupakan pedagang, “Meskipun saya disini PNS, tapi teman-teman saya seperantauan disini dari Jawa kebanyakan pedagang,” terang Pak Akhmad. Pak Akhmad lalu melanjutkan ceritanya tentang perantau asal Jawa di Bali. Pak Akhmad menceritakan tentang kehidupan seorang temannya yang sangat menarik, “Saya punya teman sesama dari Jawa bernama Sarfitri dan Bejo. Keduanya adalah pasangan suami istri yang berasal dari Dusun Ngasinan Wetan, Wonoharjo, Wonogiri, Jateng. Tiga tahun sudah mereka menikah dan belum dikaruniai seorang anakpun. Kemudian keduanya memutuskan untuk merantau ke Pulau Dewata. Di Bali, mereka bertempat tinggal di Denpasar, dan bekerja sebagai pedagang bakso ayam dan mie ayam.” Pak Akhmad menambahkan bahwa cerita menariknya yaitu   ada pada cerita mereka yang belum dikaruniai anak, lalu sang istri diberitahu oleh pemuka agama Hindu di daerah tempat tinggal mereka, agar pergi ke mata air Sidadadi untuk berdoa supaya dikaruniai putra. Sebenarnya Sarfitri dan Bejo adalah penganut agama Islam yang taat, tetapi karena inginnya mereka mempunyai keturunan, akhirnya mereka menuruti anjuran tersebut. Sebenarnya selain keinginan tersebut, mereka juga sudah berbaur dengan masyarakat Hindu yang kental dengan budayanya yang sakral, sehingga hal seperti itupun dianggapnya suci, karena masyarakat Jawa juga terdapat paham seperti itu. Akhirnya beberapa bulan setelah mereka ke mata air Sidadadi dan beribadah meminta berkah dari Allah SWT Sarfitri hamil dan kedua pasangan tersebut dikaruniai seorang anak.
Ada yang pegawai negeri, ada juga yang merantau karena jadi pegawai PT. Beliau adalah Bapak Arif Makmum yang asli dari Sleman, Yogyakarta. Pak Arif bekerja di PT. PLN, “Sudah kurang lebih 1 tahun saya tugas disini, sebelumnya saya tugas di Sleman, lalu dipindah kesini,” tutur pak Arif Makmum.
Tidak semua perantau dari Jawa di Bali bertujuan untuk mencari penghidupan. Febi salah satunya. Febi merupakan salah satu mahasiswa Universitas Udayana, Bali yang berasal dari Jawa. Tentang pilihannya kenapa berkuliah di Bali, Febi menjawab kalau awalnya merupakan iseng saja, “Aku sih awalnya iseng aja ndaftar kuliah disini, tapi sekarang aku udah sadar kalau kuliahku ini bukan mainan,” tegas mahasiswa jurusan Teknologi Industri Pertanian ini.
Perantau Jawa di Bali mungkin tidak sebanyak Jakarta namun hampir ada di segala sektor, dari mulai pedagang, PNS, pegawai PT, sampai mahasiswa yang sedang menempuh studi. Kendala utama yang dirasakan para perantau Jawa di Bali adalah saat rasa rindu kepada keluarga di rumah melanda, “Saya sering kangen orang rumah, kalau memang tidak bisa pulang, biasanya saya menyempatkan diri untuk berlibur untuk sekedar refresing menikmati panorama Bali,” cerita Pak Arif Makmum. Senada dengan Pak Arif, Yusuf juga selalu menyempatkan sedikit waktu untuk berlibur jika rasa rindu rumah melanda, “Kalau sedang rindu rumah ya seperti sekarang ini, refresing ke pantai sama teman-teman,” terang Yusuf yang saat itu sedang berlibur di pantai Kuta bersama teman-temannya.
Dari cerita para perantau Jawa di Bali, sepertinya Bali cocok sebagai kota tujuan para perantau dari Jawa selain Jakarta. Selain iklim masyarakat di Bali yang bersahabat, di Bali juga belum sepadat Jakarta yang merupakan kota metropolitan yang menjadi pusat dari segala kegiatan di negeri ini, tapi akan lebih baik mungkin kalau tidak merantau, yaitu dengan tetap mengembangkan potensi daerah masing-masing.
Oleh:
1.      Rita Budi P.
2.      Melisa Yulianggara
3.      Viandika Indah S.
4.      Endah Pramita S.
5.      Andri Krisma D.
6.      Akhmad Fatkhul Amin
7.      Priyana
8.      Dewi P.S.
9.      Yunita Anggun T.W.
10.  Lisa Dewi N.A.
11.  Yeniar Rahmah
12.  Annas Nurul F.
13.  Fajar Istiqomah
14.  Lupita A.
15.  Endah Yulistyaningsih
16.  Hermanto
17.  Chory A.
18.  Eko Kurnia B.G.
TUGAS JURNALISTIK JAWA
PARA PERANTAU JAWA DI BALI
Dosen   : Dr. Mulyana, M.Hum






Oleh:
Nama                    : KELOMPOK 1
Kelas                    : A






PENDIDIKAN BAHASA DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar